test banner

Sabtu, 27 Juni 2026

POLEMIK USTADZAH AI YANG VIRAL : PRO DAN KONRA

POLEMIK USTADZAH AI YANG VIRAL : PRO DAN KONRA


Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin merambah berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan dakwah Islam. Belakangan ini, muncul fenomena “Ustadzah AI” yang menjadi perbincangan hangat di media sosial. Teknologi ini menampilkan sosok virtual yang dapat menyampaikan ceramah, menjawab pertanyaan agama, bahkan memberikan penjelasan keislaman secara otomatis melalui sistem kecerdasan buatan.

Fenomena tersebut memunculkan beragam respons dari masyarakat. Sebagian kalangan mendukung kehadiran teknologi ini karena dianggap mampu membantu proses pendidikan dan penyebaran ilmu agama. Namun di sisi lain, tidak sedikit pihak yang mengkritisi dan mempertanyakan dampaknya terhadap otoritas keilmuan Islam.

Pandangan Pro terhadap Ustadzah AI

Dari sisi pendidikan Islam, pendukung Ustadzah AI menilai teknologi ini dapat menjadi media pembelajaran yang efektif di era digital.

Pertama, AI dapat meningkatkan akses terhadap pendidikan Islam. Peserta didik dapat memperoleh informasi dan penjelasan materi agama kapan saja dan di mana saja tanpa terikat ruang dan waktu.

Kedua, Ustadzah AI dapat menjadi sarana pendukung proses pembelajaran. Guru atau ustadz dapat memanfaatkan teknologi ini untuk membantu penyampaian materi, membuat bahan ajar, merancang soal, maupun menyediakan referensi pembelajaran yang lebih variatif.

Ketiga, penggunaan AI dapat meningkatkan minat belajar generasi muda. Di era digital saat ini, peserta didik cenderung lebih tertarik pada media pembelajaran yang interaktif dan berbasis teknologi.

Selain itu, AI dinilai dapat mempercepat penyebaran informasi keislaman kepada masyarakat luas, khususnya bagi daerah yang masih mengalami keterbatasan tenaga pendidik agama.

Pandangan Kontra terhadap Ustadzah AI

Di sisi lain, sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan Islam menyampaikan beberapa catatan penting terhadap penggunaan Ustadzah AI.

Pertama, terdapat kekhawatiran mengenai validitas sumber keilmuan. Dalam tradisi pendidikan Islam, ilmu tidak hanya diperoleh melalui informasi, tetapi juga melalui sanad atau rantai keilmuan yang jelas. AI dapat menghasilkan jawaban berdasarkan data yang dipelajari, namun belum tentu memiliki ketepatan dalil serta pemahaman konteks syariat yang benar.

Kedua, pendidikan Islam tidak sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan keteladanan. Seorang guru atau ustadz berfungsi sebagai pendidik yang memberikan contoh sikap, adab, dan nilai-nilai kehidupan. Peran tersebut sulit sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Ketiga, terdapat kekhawatiran munculnya ketergantungan terhadap teknologi. Peserta didik dapat menjadi kurang aktif dalam mencari sumber rujukan yang sahih atau mengurangi interaksi langsung dengan guru.

Keempat, penggunaan AI tanpa pengawasan berpotensi menimbulkan kesalahan informasi keagamaan yang dapat memengaruhi pemahaman masyarakat.

Perspektif Pendidikan Islam

Dalam pandangan pendidikan Islam, teknologi pada dasarnya merupakan alat (wasilah) yang dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Islam tidak menolak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selama penggunaannya membawa manfaat serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat.

Kehadiran Ustadzah AI sebaiknya dipandang sebagai media pendukung, bukan pengganti peran guru dan ulama. Guru tetap memiliki posisi utama dalam pendidikan Islam karena berperan dalam pembentukan karakter, adab, spiritualitas, serta bimbingan moral peserta didik. dan yang paling pokok adalah ketersambungan sanad keilmuan. 

Pendidikan Islam menekankan keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan akhlak. Oleh sebab itu, pemanfaatan teknologi AI perlu dilakukan secara bijak, kritis, dan tetap berada di bawah pendampingan tenaga pendidik yang kompeten.

Penutup

Polemik Ustadzah AI menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membawa tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan Islam. Di satu sisi, AI dapat membantu memperluas akses pembelajaran dan meningkatkan efektivitas pendidikan. Namun di sisi lain, penggunaannya juga memerlukan kehati-hatian agar tidak menggeser peran utama pendidik dalam membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak.

Perdebatan mengenai Ustadzah AI pada akhirnya bukan semata persoalan menerima atau menolak teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkannya secara tepat agar tetap sejalan dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.






Rabu, 10 September 2025

Kurikulum Merdeka dengan Pendekatan Deep Learning

Kurikulum Merdeka dengan Pendekatan Deep Learning

Deep learning dengan Kurikulum Merdeka adalah bahwa deep learning bukanlah kurikulum baru, melainkan sebuah pendekatan pembelajaran mendalam yang melengkapi dan menyempurnakan Kurikulum Merdeka dengan berfokus pada pemahaman konsep inti, eksplorasi mendalam, pemecahan masalah, serta pengaitan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Pendekatan ini bertujuan untuk menguatkan kompetensi berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas siswa, sekaligus menjadikan pembelajaran lebih bermakna, menyenangkan, dan personal, sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka.  

Komponen Utama dalam Kerangka Kerja

1. Inti: Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Di pusat diagram terdapat konsep Pembelajaran Mendalam, yakni pendekatan pendidikan yang menekankan pemahaman yang utuh—kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tujuannya adalah membentuk karakter serta keterampilan abad ke-21 secara menyeluruh.Bbpmpjatim


2. Dimensi Profil Lulusan

Mengelilingi inti terdapat delapan kompetensi yang diharapkan tumbuh dalam diri peserta didik:

  1. Keimanan dan Ketakwaan kepada Tuhan YME
  2. Kewargaan
  3. Penalaran Kritis
  4. Kreativitas
  5. Kolaborasi
  6. Kemandirian
  7. Kesehatan
  8. Komunikasi

Delapan dimensi ini mencerminkan “profil pelajar Pancasila” yang kokoh dan seimbang secara holistik.Bbpmpjatim+1


3. Prinsip-Prinsip Pembelajaran

Terdapat tiga prinsip utama yang menjadi penopang pengalaman belajar peserta didik:

  • Berkesadaran (Mindful) – siswa menyadari tujuan pembelajaran dan aktif mengatur proses belajarnya.
  • Bermakna (Meaningful) – pembelajaran relevan, kontekstual, dan menumbuhkan pemahaman mendalam.
  • Menggembirakan (Joyful) – proses pembelajaran menyenangkan dan memotivasi, menumbuhkan rasa ingin tahu.Melintas+1

4. Pengalaman Belajar

Diagram menunjukkan siklus dinamis pengalaman belajar yang terdiri dari:

  • Memahami – membangun pemahaman konsep.
  • Mengaplikasi – mengimplementasikan ilmu dalam konteks nyata.
  • Berkesadaran – refleksi atas proses belajar.
  • Menggembirakan – memastikan pengalaman itu dinikmati.

Siklus ini bersifat berulang dan memperkuat interaksi antar proses.Bbpmpjatim+1


5. Kerangka Pembelajaran (Aspek Pendukung)

Mengelilingi grafis luar terdapat empat komponen struktural yang membentuk ekosistem pendukung:

  • Praktik pedagogis – strategi mengajar untuk deep learning.
  • Lingkungan pembelajaran – ruang inklusif dan inspiratif.
  • Pemanfaatan teknologi digital – mendorong eksplorasi dan inovasi.
  • Kemitraan pembelajaran – kolaborasi untuk konteks autentik.Melintas

Gambaran Keseluruhan

Kerangka ini dirancang sebagai pendekatan holistik: memadukan nilai-nilai spiritual, intelektual, emosional, sosial, dan fisik. Tidak hanya menekankan pada penguasaan materi, tetapi juga pada bagaimana proses belajar diarahkan agar bermakna, reflektif, dan menyenangkan—serta ditopang oleh lingkungan, metode, teknologi, dan kolaborasi yang efektif.

 



Selasa, 05 Desember 2023

Program 7K SMK Assa'idiyah

Program 7K SMK Assa'idiyah


Lingkungan yang aman dan nyaman dapat membuat kita merasa betah untuk belajar maupun mengerjakan tugas-tugas lainnya. Hal tersebut tertuang dalam tujuan dari program kerja 7K yang meliputi keamanan, kebersihan, keimanan, kekeluargaan, kerindangan, kerapihan, keindahan. Terciptanya lingkungan yang diidamkan oleh siswa maupun tenaga pendidik yang tentu juga dapat meningkatkan suasana belajar menjadi lebih efektif dan berkualitas.

Penjabaran dari program 7K sebagai berikut :

  1. Keamanan.

Aman , adalah bebas dari gangguan   seseorang/ sekelompok orang/lingkungan dan aman adalah hak mendasar yang harus dimiliki manusia.

2. Kebersihan.

Bersih, adalah tempat atau lingkungan , bebas dari sampah, debu, sehingga nampak sedap dipandang. Kebersihan meliputi : bersih tempat tinggal, tempat belajar/ kelas, sekolah/ lingkungan sekolah, tempat ibadah, tempat bekerja.

3. Keimanan.

Iman, adalah kita percaya Allah( SWT ada. Iman merupakan landasan penting dalam belajar, dan bekerja.

Pelaksanannya adalah : merayakan hari keagamaan bersama di sekolah misalnya hari raya idul fitri, mendirikan pengajian rutin, mejelis taklim untuk kajian agama di sekolah.

4. Kekeluargaan.

Kekeluargaan, adalah hubungan yang erat antar orang-orang dalam rumah, kelas, sekolah dan masyarakat. Pelaksanaannya adalah : kita harus saling menghargai, mengayomi, tidak mencari selamat diri sendiri, menyenguk jika teman jika sakit, menolong sesama siswa.

5. Kerindangan.

Rindang atau sejuk, adalah lingkungan yang mempunyai sisrkulasi udara yang baik, dengan adanya tanaman yang menyejukan, serta bebas dari polusi udara.

Pelaksanaanya adalah : menanami halaman / lingkungan sekolah dengan pepohonan yang bermanfaat, taman depan kelas dengan berbagai tamanan bunga, rajin menyiangi dan menyiram.

6. Kerapihan.

Rapih, adalah suasana harmonis dalam dalam diri kita,keluarga, sekolah, kantor, atau lingkungan sekitar.

Pelaksaannya, adalah : rapih dari cara kita berpakaian, memakai seragam sekolah sesuai dengan aturan yang ditetapkan, menata ruang kelas dengan baik.

7. Keindahan.

Indah adalah suasana asri enak di pandang mata yang menyangkut lingkungan sekolah kita,. Keindahan bisa tercapai manakala keamanan, kebersihan, keimanan, kekeluargaan, kerindangan dan kerapihan  tercapai.

Dengan berjalannya program 7K di lingkungan sekolah, semoga dapat membuat para siswa lebih fokus dalam belajar dan menerima ilmu, sehingga mereka dapat meraih prestasi gemilang untuk masa depan.

Selasa, 12 Mei 2020

Sabtu, 21 Maret 2020

Senin, 03 Februari 2020

Minggu, 02 Februari 2020

MKKS SMKS Bangkalan Rakor di Kota Batu Malang

MKKS SMKS Bangkalan Rakor di Kota Batu Malang


Villa Bagus, 2-3 Februari 2020 Kota Batu, Malang menjadi lokasi Rapat Koordinasi & Sosialisasi Persiapan SPBK & UNBK 2019/2020 Kegiatan di hadiri oleh Ketua MKKS SMK Swasta Kabupaten Bangkalan dengantotal 54 lembaga dengan total kehadiran mencapai 95 %. Hal ini dilakukan agar rakor bisa maksimal dalam menghadapi ujian-ujian pasa tahun 2020. 

Rakor dibuka oleh Ketua MKKS SMK Swasta KH. Muhdhori Ar. M.Pd.I selanjutnya diadakan lepas kenang dengan pengawas/ pembina Bapak Djasmadi yang telah purna.
Dilanjutkan dengan Pembinaan dan penjelasan Domnis USPBK , UNBK dan UKK  oleh Korwas Bpk. Adi Suratman, M.Pd.
Rakor MKKS SMK Swasta dengan Agenda: Koordinasi tentang pelaksanaan USPBK , Pemetaan Rayonisasi UNBK dan RAB Sub Rayon dll oleh Bpk Hosri dan Bpk. Agus Mardiono, Srategi peningkatan kualitas lulusan tahun 2020
Acara ditutup dengan makan siang di Rumah Makan Ayam Bakar Pak Sholeh di Karanglo Malang.

Penulis : Jurnalis Muda Assaidiyah.